Pages

  • HOME
  • ABOUT

WORLD OF NADA

Kembali ke rencana awal. Kita menuju Museum Ullen Sentalu dengan kendaraan umum. Dari halte Malioboro 3, kita harus ke halte Kentungan. Karena Ayu butuh obat batuk, kita ke Apotek Kentungan deket halte. Setelah tanya-tanya, untuk menuju Kaliurang kita harus naik bus Yogyakarta-Kaliurang. Ada satpam yang baik nyuruh kita duduk aja nanti kalo bus-nya dateng dia kasih tau.
Sekitar nunggu 15 menit, 'bus' itu dateng. Ternyata, yang dimaksud 'bus' itu tak lain tak bukan adalah angkot. Angkot ini akan mengantar penumpang sepanjang jalan Kaliurang. Sebenernya, angkot ini berhenti sampe KM20, tapi setelah tawar-tawaran akhirnya kita charter dan supirnya mau nganterin kita sampe Museum Ullen Sentalu, nungguin, dan nganter pulang lagi. Setelah ngerasain sendiri, gw saranin kalo ke sini atau ke tempat yang jauh-jauh dari pusat kota Jogja mending sewa mobil aja.

Akhirnya tibalah kita di tujuan impian. Gw juga udah pernah ke sini tapi kurang menikmati karena lagi hujan waktu itu. Beruntunglah cuaca mendukung hari ini. Sengaja kita bela-belain ke sini karena takut rame besoknya tanggal merah.
Museum Ullen Sentalu merupakan museum yang menceritakan budaya Jawa, mostly about budaya Mataram terutama tokoh-tokoh Kesunanan Solo dan Kesultanan Jogja yang jarang diceritakan ke masyarakat. Itulah yang membuat museum ini menarik. Museum ini milik swasta, bukan milik pemerintah maupun kesultanan. Pengunjung dikenakan harga tiket sebesar Rp30.000,-. Itu udah termasuk guided tour selama 50 menit dan nyobain jamu awet muda.
Gw dan Ayu beruntung saat kita dateng ada rombongan dari Jakarta lagi nunggu giliran masuk, bisa jebe deh jadinya. Dan kata mbaknya beruntungnya kita juga pas nggak rame jadi ada guide yang standby.
Dijamin nggak bakal bosen selama di dalem, karena bagi gw semuanya menarik. Ditambah guide kita, mbak Tari, enak banget ngejelasinnya. Tau sendiri budaya Jawa yang sangat complicated. Gw aja yang orang Jawa cuma tau ala kadarnya. Di sini kita bisa liat foto-foto, lukisan, alat musik, pakaian, kain batik, surat-surat, arca, dan lain-lain. Harus gw akui museum ini bagus banget dan penyajiannya priyayi. Selama tour kita nggak boleh ngambil gambar, hanya di beberapa spot aja yang boleh. Selain museum, ada restoran juga di sini namanya Beukonhof Restaurant yang bergaya Belanda dan menyajikan makanan western, tapi kita nggak makan di situ.


Back to our original plan, we were going to Museum Ullen Sentalu by bus. From Malioboro 3 stop, we had to reach Kentungan stop. After asking people, if we want to go the museum we should take Yogyakarta-Kaliurang bus. The 'bus' is actually an angkot (a mini bus). Based on my experience, I suggest you better rent a car to reach places which is quite far from Jogja city centre. 


Museum Ullen Sentalu presents Javanese art and culture, mostly tells about Mataram culture, the Solo and Jogja kingdom which is rarely known by public. The museum is private-owned, not government nor Yogyakarta kingdom-owned. The entrance fee is Rp30.000,- for domestic guests while for foreigners is Rp50.000,-. The fee is including 50-minute guided tour and trying Jamu Awet Muda.


I guarantee you won't be bored inside. Luckily, my guide was very attractive. Here we can see pictures, paintings, musical instruments, clothings, batik, letters, statues, etc. I have to admit that this museum is very nice and 'rich'. Guests are not allowed to take pictures during tour, only allowed on some spots. Besides museum, there is a Dutch-style restaurant called Beukonhof Restaurant which provides western food.




Jamu Awet Muda










Kita sebenernya udah kelaperan banget dan emang udah nargetin mau makan di Waroeng of Raminten di Kaliurang KM15. Kita menuju ke sana pake angkot yang udah kita charter itu. Pas mau turun, pake debat dulu sama supirnya gara-gara miskom tarif. Totalnya jadi Rp135.000,- berdua!! Gila. Tapi dipikir-pikir jaraknya cukup jauh dan kita juga harus gantiin penumpang sih. Ya sudahlah, pengalaman.

Masuk restoran, di bagian depan dijual cokelat-cokelat eksis keluaran Chocodot yang berbunyi 'Cokelat Anti Galau', 'Cokelat Enteng Jodoh', dan kawan-kawannya itu. Berada di dalam restoran dengan bangunan yang didominasi kayu, open-air, ada kolam, ditambah udara yang sejuk bikin hati dan pikiran jadi adem. Kita duduk di selasar bawah dan segera milih dan pesen makanan. Menu yang ditawarkan masakan Indonesia.


We were already starving and wanted to eat at Waroeng of Raminten at Kaliurang KM15. We went there by the same angkot we used to reach the museum. There was a miscommunication with the driver about the fee. We ended up paying Rp135.000,-! Crazy indeed. The distance is quite long after all.

At the entrance of the restaurant, there are chocolates with interesting word that Indonesians found it very funny. Being at the restaurant with wooden furnitures, open-air, a pond, and breezy wind made me feel calm. We sat at the bottom terrace and order the food. The restaurant serves Indonesian cuisine.












Datanglah pesenan kita. Untuk makanan, gw pesen paket yang terdiri dari ikan bakar, plecing (kangkung pake sambel), nasi, dan es teh seharga Rp18.000. Ayu pesen yang ayam bakar. Untuk minuman tambahan, gw pesen Susu Kembang Perawan (Rp11.000) cuma gara-gara pengen foto gelasnya yang fenomenal itu.
Masalah rasa, untuk ikannya sendiri MANTEP BANGET!! Sumpah, ini bukan karena kelaperan. Tapi emang bumbunya enak banget dan meresap ke ikan. Plecingnya juga enak tapi sambelnya super pedes! Jadi untuk yang nggak kuat, mending dipinggirin dulu tuh sambelnya. Gw yang sebenernya kuat pedes tapi nggak kelewat pedes ini rela ngabisin walau air mata udah netes saking ketagihan. Untuk Susu Kembang Perawan-nya, gw sebelumnya have no idea ini minuman apa. Pas minum, gw masih bertanya-tanya, 'Ini minuman apa sih?'. Penampakannya kayak santan pecah pas direbus dan ada cincau sama kolang-kalingnya. Pas gw post di Instagram, temen gw bilang ini susu jahe. Tapi rasanya jauh dari itu. Sampai sekarang gw nggak bisa mendeskripsikan rasanya.


Here comes the food. I ordered a combo that consists of grilled fish, plecing (kangkung=one of Indonesian vegetables, served with chilli sauce), rice, and ice tea for Rp18.000,-. Ayu had the one with grilled chicken. For additional drink, I ordered Susu Kembang Perawan (Rp11.000,-) only because I wanted to take picture of its fenomenal cup shape.
Talking about taste, the fish is very tasty. It is very well-seasoned. The plecing is also nice but watch out for its super spicy chili sauce. I had no idea what Susu Kembang Perawan was before. The look is like a broken coconut milk, with grass jelly and kolang-kaling. When I posted it on Instagram, my friend said it was a ginger milk. But the taste is way far than that. Until now, I couldn't describe the taste.
Susu Kembang Perawan


Setelah kenyang, kita naik taksi menuju KaliMilk, kedai susu eksis di Kaliurang KM4.9. Sebenernya ini berasal dari ketidaksengajaan pas jalan ke Ullen Sentalu kita ngeliat ini dan jadi pengen sekalian ke sini. Rasanya surga banget di dalem, berhubung tiba-tiba hujan. Beruntung kita masih dapet tempat duduk karena lagi lumayan rame.
Selain tentunya susu, KaliMilk juga menyediakan makanan light sampai yang cukup bikin kenyang. Tapi karena abis makan, kita cuma pesen susu. Pas dibuka menunya, ampun banyak banget pilihan rasa susunya. Semuanya keliatan menarik. Coba ukuran gelasnya mini, gw cobain satu-satu deh. Gw berakhir pesen Cracknel Milk, susu caramel pake biskuit manis. Sama sekali nggak nyesel pesen ini! Rasa manisnya pas, biskuitnya juga enak, minumnya jadi nggak bosen karena ada yang dikunyah. Kalo Ayu pesen susu vanilla yang panas. Gw ngicip dan enak juga. Pas banget bikin anget.


After being full, we took a taxi to go to KaliMilk, a popular milk cafe at Kaliurang KM4.9. It was raining outside so it felt very comfortable inside. Besides milk, it also provides light to almost-heavy food. Because we just had lunch before, we only ordered milk. When I opened the menu, there are too many milk flavours to choose! Everything was very tempting. I wish the glass size was smaller so I could taste all flavours. I ended up having Cracknel Milk, a caramel milk with sweet biscuits. I didn't regret at all choosing this. The sweetness is perfect, and the biscuits are nice, giving a little crunch. Ayu had a hot vanilla milk. I tasted it and it is also nice.
Cracknel Milk

Walau susu udah habis, kita masih duduk bentar di dalem. Setelah hujan reda, kita jalan-jalan deket situ. Ternyata di sepanjang jalan ini banyak banget tempat makan. Menarik banget untuk dicoba namun apa daya perut sudah tidak mampu menampung.

Rencana selanjutnya adalah ke Epic Coffee di Jl. Palagan Tentara Pelajar. Kita menuju halte Kentungan lagi. Kesabaran kita diuji mulai dari sini. Udah nunggu sekitar setengah jam, kok busnya nggak dateng-dateng. Kita nyerah dan berusaha nyari taksi. Dan ternyata nggak semudah yang dibayangkan! Taksi jarang banget yang lewat dan sekalinya lewat udah ada penumpangnya atau udah dipesen. Jalanan super macet dan kita udah nggak tau malu pindah-pindah spot cegat taksi. Penyakitnya sama aja nih kayak Jakarta, kalo besoknya libur, malem sebelumnya super macet. Akhirnya setelah berpasrah satu jam, nemu juga taksi. Syukurlah...


Even though we already finished drinking, we still waited inside. As soon as the rain stopped, we walked around there. We found many eating places along the street.

Our next destination plan is Epic Coffee at Jl. Palagan Tentara Pelajar. We were heading back to Kentungan stop again. We had been waiting for half an hour, but there was no sign of bus. We gave up and tried to find taxi. But it wasn't as easy as expected! The taxi passing by was either occupied or ordered. The traffic was very bad because the next day is holiday. After around an hour, we finally got one. Feel so relieved.



Gw pengen ke sini banget karena kafe ini hits abis sering muncul di timeline Instagram. Well, ternyata emang nggak biasa. Kafe ini nyatu sama Epilog Furniture, jadi pengunjung juga bisa sekalian liat-liat. Tempat dan furniturenya benar-benar memanjakan mata. Suasananya mau di dalam atau luar sama-sama pewe.



I really wanted to go here since it kept coming up on my Instagram timeline. Well, it is not a regular cafe after all. The cafe is merged with Epilog Furniture, so the guests can also look around. The place itself and the furniture are very interesting. I love the ambience, either indoor or outdoor.





Epilog Furniture

Andai cuma bisa numpang duduk, tapi kan nggak mungkin. Ayu kebetulan pengen cake jadi dia pesen Red Velvet Cheese Cake. Sedangkan gw pesen Pannacotta sama Strawberry Juice. Jus-nya seger tapi menurut gw kedua dessertnya biasa aja.



I wish I could only sit since I was full. Ayu was craving for cake so she ordered Red Velvet Cheese Cake. I ended up having Pannacotta and Strawberry Juice. The juice was refreshing while for me there was nothing special for both desserts.





Epic Coffee jadi destinasi terakhir kita di hari itu. And that's how we ended our first day.

Epic Coffee became our last destination. And that's how we ended our first day.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hai, semua! Gw seneng banget akhirnya bisa pergi lagi buat refreshing. Kebiasaan gw tiap akhir tahun adalah nyatet tanggal-tanggal merah di tahun berikutnya buat ngerencanain liburan. Dan di bulan Mei ini tanggal-tanggal merahnya strategis banget buat long weekend. Gw pun makin gatel buat pergi. My holiday inspiration mostly comes from Instagram, dan pilihan gw kali ini jatuh pada Jogja. Terakhir ke sana tahun 2013 lalu sama keluarga besar tapi cuma seharian PP Boyolali.
Sebenernya udah pengen pergi ke sana di bulan Desember kemaren. Bokap udah oke namun rencana batal gara-gara adek gw mager kalo perginya cuma keluarga kita doang. Gw sempet mengidekan buat pergi di bulan Mei ini namun tidak direspon. Lalu di suatu hari Kamis, lagi kelas pagi dan ngobrol sama temen-temen, gw bilang gw pengen ke Jogja. Tiba-tiba menyeletuklah temen gw, Ayu, kalo dia juga pengen. Singkat cerita, malem itu gw langsung minta izin ke bokap, beliau setuju, dan gw fix berangkat. Yeay!

Gw berakhir pergi berdua aja sama Ayu. Tadinya ngajakin temen-temen kita yang lain, tapi yang fix cuma kita dan udah ada yang rencana ke tempat lain juga. Kita berangkat hari Rabu, 13 Mei 2015 naik pesawat jam 6 pagi. Kita beruntung banget karena tiket kereta udah pada abis untuk berangkatnya dan tiket pesawat yang harganya cukup oke di waktu kayak gitu tinggal sisa 2 seat!

Selasa malemnya Ayu nginep di rumah gw biar sekalian berangkat bareng berhubung rumah gw juga lebih deket ke bandara. Entah kenapa malam itu gw nggak bisa tidur, padahal ngantuk dan capek banget abis latian nari di kampus. Sempet pules bentar abis itu kebangun jam 02.30 dan nggak bisa tidur lagi. Emang kalo mau bepergian gw suka susah tidur, tapi ya nggak sampe gini-gini amat.
Gw pun nyalain hape dan buka chat yang belum kebaca. Lagi buka group chat terus ada tulisan 'Dompet kak Nada di Dira yaaa.' .............. *hening sejenak* Gw terbengong-bengong ngeliat hape. Speechless. Itu chat masuk sebenernya udah dari jam 12 tapi gw baru baca.
APAAAA??!! Oh. Em. Gee. Ini gokil abis pikir gw. Dompet nggak pernah ketinggalan dan sekalinya nggak ada pas sangat urgent. Kok bisa sih tu dompet loncat dari tas gw?? Gw pun juga nggak sadar dompet nggak ada pas lagi mindah-mindahan barang ke tas yang mau dipake. Pikiran kacau balau. Jadi ini toh yang bikin gw nggak bisa tidur. Mau diambil juga udah nggak mungkin. Waktu udah mepet, gw nggak tau kosannya di mana, dan doi lagi tidur juga. Gw coba nenangin diri dan berpikir jernih.

Gw bersyukur dompet gw nggak ilang dan sadar itu nggak ada pas masih di rumah. Coba gw sadarnya pas udah di bandara? Hadeuh nggak kebayang deh. Gw bilang bokap dan berakhir pergi bermodalkan dompet lama berisi uang cash. Untuk identitas, gw bawa paspor. Gaya bener ye ke Jogja aja pake paspor, tapi ya mau gimana lagi.

Berangkatlah gw ke bandara. Gw punya pengalaman nggak mengenakkan dengan maskapai yang akan gw pake hari itu. Jadi untuk jaga-jaga, gw udah web check-in biar tetep boleh masuk walau udah lewat batas check-in. Bener aja, sesampainya di check-in counter, mbaknya nyuruh gw langsung ke atas karena udah boarding. Gw dan Ayu pun lari terbirit-birit. Thank God we made it. Drama pun usai dan terbanglah kita ke Jogja.

Setelah kurang lebih terbang selama 1 jam, akhirnya sampailah kita di Jogja. Hal pertama yang kita lakukan adalah gw beli roti karena belum sarapan dan Ayu ke bagian informasi untuk nanya-nanya kendaraan. Gw mah ngikut aja sama dia secara dia lebih tau Jogja. Abis itu kita langsung menuju shelter TransJogja. 

Masuk ke sana, gw norak dan kampung abis. Gw anak paling jarang naik kendaraan umum kalo di negara sendiri, jadi menginjakkan kaki dan bener-bener ngerasain segalanya di shelter merupakan pengalaman yang jarang buat gw. Sempet ngerasain TransJakarta, tapi kayaknya cuma sekali seumur hidup waktu SMP.
Sistem tarif TransJogja sangat simpel. Dengan hanya membayar Rp3.600,- kita udah bisa dibawa keliling Jogja. Jadi kalo ke sini siapin receh ya. Mau deket mau jauh, harga tetep sama. Setelah bayar, nanti petugas masukin kartu ke mesin supaya penumpang bisa masuk. Bagi yang udah punya kartu langganan (biasanya yang tinggal di Jogja) tinggal tap aja.
Di beberapa halte kita bisa ganti bus kalo rutenya berbeda. Nggak perlu takut kesasar karena petugasnya sangat menguasai dan ramah banget. Ini nih yang gw highlight dari TransJogja, pelayanannya oke banget. Di halte biasanya ada 2-3 petugas: 1 atau 2 yang ngurus karcis, 1 lagi yang jaga untuk mengarahkan penumpang yang mau keluar-masuk bus dan ngasih tau nomer bus yang mau dateng beserta rutenya. Pas masuk bus, juga ada 1 petugas yang stand by deket pintu. Beliau sangat berperan dalam menertibkan penumpang juga ngasih info kita akan berhenti di halte apa. Dan hal yang gw suka lagi adalah kita nggak akan berlama-lama berhenti di halte karena para petugas mengarahkan dengan tegas supaya kita gercep (gerak cepat) dan teratur.
Bus nya sendiri juga bersih dan dingin, bahkan kalo malem makin dingin. Biasanya di dalem bus nggak begitu rame, yang sampe harus berdiri cuma sedikit. Tapiii... waktu di tanggal 14nya pas hari libur, untuk pertama kalinya di malam hari gw merasakan bus yang super penuh!! Sampe-sampe gw diskip 3 kali saking penuhnya. Sekalinya masuk, gw dapet bus yang AC-nya lagi bocor, jadi sekitar 5 kursi ga bisa didudukin. Masalah AC bocor juga perlu diperhatiin nih, karena gw nggak cuma menemukan di 1 bus aja.



English version (not the full translation):
Hey, readers! It's been a hectic week in college. I am so happy that I could travel again for refreshing. May has many long weekends because of holiday on Fridays. My holiday inspiration mostly comes from Instagram and this time I chose Jogja. I've been wanting to go to Jogja for so long but no one could go. Then suddenly Ayu, a friend of mine said that she wanted to go to Jogja so we decided to go there together.

At the d-day, I realized that I didn't have my wallet on me. The night before, I had dance rehearsal. I accidently left it and anothet friend took it. I didn't have time to take it first since I took early morning flight. I was still grateful that it wasn't lost and I had realized it at home. I couldn't imagine if I knew it at the airport. So I left bringing my old wallet, asked my dad for cash, and brought my passport for ID.

After a one-hour flight, I finally arrived in Jogja. As soon as we went out, I bought bread and Ayu looked for information. We were then directly heading to TransJogja shelter. TransJogja is a perfect alternative transportation and it's very tourist-friendly. With only Rp3.600,- (=US$0.2!!), you could get around Jogja easily. The fee is fixed for any distance. The staffs are very friendly and helpful so you don't have to worry.

TransJogja Shelter


Di dalam bus
Inside the bus

Katanya kalo mau bener-bener berasa kayak orang lokal, turis harus coba naik angkutan umum dan makan street food. Ternyata emang bener sih. Di dalem bus walau ngomong pake bahasa Indonesia, kerasa banget logat-logat medok Jawa. Udah kerasa sejak turun pesawat di bandara sih. Mana denger orang yang duduk depan gw ngomong kata 'Boyolali' pula. Duh, makin kangen kampung!

Turunlah kita di halte Malioboro 3, yaitu di Jl. Jenderal Ahmad Yani dekat Fort Vredeburg. Di sepanjang jalan banyak tempat duduk dan properti yang menarik. Walau masih pagi, udah ada beberapa orang yang nongkrong di situ dan bahkan udah foto-foto. Berhubung masih sepi dan nggak banyak saingan, hasrat seorang Nada untuk berfoto pun muncul. Inilah kesempatan gw, jadi mari colong start, hehehe. Setelah puas, kita nyari becak buat menuju ke penginapan. Di sepanjang jalan pun gw asik foto-foto. Gw terlalu menikmati dan nggak percaya bisa liburan sejenak.


We got off at Malioboro 3 terminal, which is at Jl. Jenderal Ahmad Yani near Fort Vredeburg. There are many benches and interesting props along the street. Although it was still in the morning, there were already some people walking and taking pictures. I used the chance to take pictures as well. After I was satisfied, we were looking for becak (a local transportation which is a bicycle with seats for passengers) to reach the accommodation.



Selfie anti-mainstream, biasanya kan pada di butik







Becak








Pusat gudeg Wijilan
Gudeg center Wijilan

Sekitar 5 menit, sampailah kita di penginapan yaitu Dhaup Guesthouse di Jl. Panembahan. Letaknya ngesot dari Wijilan (pusat gudeg) dan deket Alun-alun Utara. Dari tampak depan, sesuai sama yang gw liat di foto. Saat masuk, kita disambut mbak-mbak resepsionis. Kita langsung dikasih kunci dan diarahkan ke kamar. Guest housenya masih sepi saat kita dateng. Kita nggak berlama-lama di sana karena langsung mau pergi lagi, namun seperti biasa gw menggunakan kesempatan untuk foto-foto. Tempatnya homey banget, berasa rumah sendiri. Sampe-sampe gw nyuci botol minum berhubung nggak sempet dicuci di rumah. Kamarnya juga sesuai yang diharapkan. Nyaman, AC-nya dingin, tapi sayangnya agak kurang bersih sprei, meja, dan lemarinya. Setelah naro barang dan ganti celana pendek biar adem-an, kita cuss keluar.

After around 5 minutes becak ride, we arrived at Dhaup Guesthouse at Jl. Panembahan. The location is near with Wijilan, a gudeg (a popular Jogja food which is an unripe jackfruit stew served with rice, boiled eggs, chicken, and many other garnish) centre and Alun-alun Utara. The look is exactly the same like we saw on the picture. When we came inside, we were greeted by the receptionist, given the key, and directed to our room. The overall place is very homey. The room was also as expected. It was comfortable and the air-con is well-functioned. Unfortunately, it wasn't too clean. After putting our bags and changing our pants to a shorter one since it was hot outside, we went out.

Dhaup Guesthouse



























On the way to terminal




Tujuan pertama kita adalah Museum Ullen Sentalu di Kaliurang. Kita jalan kaki menuju halte Malioboro 3 yang tadi. Penasaran sama Fort Vredeburg, eh malah 'kejebak' dulu di sana. Jadilah kita muterin seantero benteng. Pengunjung dikenai biaya Rp2.000,-. Dengan harga segitu, dijamin bakal puas banget! Gw merasa rela bayar lebih buat nikmatin semua yang ada di sini.

Our first destination is Museum Ullen Sentalu in Kaliurang. We walked back to Malioboro 3 terminal. Curious about Fort Vredeburg, we went inside and ended up exploring the place first. With only Rp2.000,- entrance fee, you'll get a worthy experience.










Ada 4 diorama yang bisa dijelajahi. Beruntunglah gw bisa masuk ke semua dioarama. Pas ke sini tahun 2012, ada diorama yang direnovasi tapi lupa yang mana. Diorama ini nyeritain sejarah Indonesia dari zaman perang sampai merdeka, begitulah singkatnya. Gw walau nggak suka sejarah, tapi betah banget di sini. Secara layoutnya yang rapi dan bagus, bersih, terawat, adem, pewe lah pokoknya. Jadi asik aja gitu ngeliatin ini-itu sekaligus belajar, walau abis itu langsung lupa lagi, haha. Gw pribadi sih nggak prefer pake jasa guide. Rada trauma pas tahun 2012 itu ditemenin guide yang betaaaaah banget cerita panjang lebar. Awal-awal masih mudeng  dan menarik, makin ke belakang berharap bisa teleport. Ini bapak udah kita stop juga ga mempan. Kali ini gw bisa menjelajah sesuka hati.

The are 4 dioramas you can see. They tell about Indonesia's history: before and until Independence Day. I, who actually am not too interested in history, really enjoyed being here. The place is clean, neat, and well-maintained. They just looked interesting. If you like, you can ask for guides to accompany you getting around and to know more deeply.

Kita salah masuk ke diorama 2, harusnya diorama 1 dulu yang ada di sebelah kanan. Tapi lanjut ajalah udah terlanjur. Di dalem rame ada rombongan anak-anak SD yang lagi dijelasin sama gurunya. Gw jebe dengerin.














Lanjut ke diorama 3 yang agak-agak gelap gimana gitu. Rada ke ujung kita nemuin Wahana Interaktif Gerilya, dipikir apaan gitu dengan pedenya masuk aja. Jalan belok kiri mentok tembok, kita harus belok kanan. Pas nengok, hyaaa... gw sama Ayu spontan teriak dan ngibrit balik arah! Ya kali deh itu gelap, ada patung seukuran manusia, ditambah bunyi tembakan gimana nggak kaget. Terus kita tersadar itu ternyata G30S-PKI. Saat kita balik, ada 2 cewek nanyain kenapa dan ada apa di situ terus ngajakin masuk bareng. Kita terima ajakannya, walau takut tapi penasaran. Walau udah jalan berempat, gw tetep ada rasa-rasa gimana gitu, ga berani liat patungnya. Creepy banget parah. Lebih milih masuk rumah hantu deh gw. Mana nggak ada pembatas dan gw serasa mau ditembak beneran. Untung ternyata wahana-nya nggak panjang, nggak nyampe 1 menit jalan malah. Phew.. Harus coba sendiri masuk buat rasain sensasinya.







Gimana gw nggak takut?





Masuk ke diorama 4 kembali terang tapi nggak terlalu luas dan sepi. Beda sama diorama 2, diorama 3 sama 4 menurut gw agak creepy. Terakhir baru deh masuk ke diorama 1. Nah, kalo di sini luas dan banyak orang kayak diorama 2.








 Diorama 1









Nggak cuma di dalam museum, pemandangan luar juga nggak kalah menarik. Puas banget lah meluangkan waktu di sini. Belajar iya, terhibur iya.












Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About

About
Big chunks of travel stories and sprinkles of everything else.

Destinations

  • Andorra
  • Asia
  • Bali
  • Bandung
  • Czech Republic
  • Europe
  • France
  • Germany
  • Hong Kong
  • Indonesia
  • Italy
  • Macau
  • Malaysia
  • Manado
  • Netherlands
  • North Korea
  • Portugal
  • Singapore
  • South Korea
  • Spain
  • Switzerland
  • United Kingdom
  • Yogyakarta

Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  December (1)
      • 2019: The 'See You's and 'Hello's
  • ►  2017 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  March (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (140)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (12)
    • ►  September (10)
    • ►  August (5)
    • ►  July (13)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (81)
Powered by Blogger.

Top Reads

  • 2017 Year-End Note: A Story of Gratitude and Other Life Lessons
    These past two years have been the greatest years I've ever had. I had been wanting to write this last year, but I just got the chan...
  • Japan Winter Trip, Day 1 (Jan 19, 2017) - Tokyo
    Japan has been on the top of my travel destinations bucket list. I don't know why, but everything about Japan is very appealing to...
  • Japan Winter Trip, Day 8 (Jan 26, 2017) - Universal Studios, Osaka
    So here comes the very last day of the whole trip. I felt a bit sad but more excited because we were going to Universal Studios Osaka! My...
  • Japan Winter Trip, Day 2 (Jan 20, 2017) - Tokyo Disney Sea
    Going to Disney amusement park is the day I've been waiting the most. I've experienced Hong Kong Disneyland twice and wonder how ...
  • Japan Winter Trip, Day 5 (Jan 23, 2017) - Tokyo Disneyland
    Last day in Tokyo, I spent it at the known as happiest place on earth, Disneyland. Based on my experience going to Disney Sea, I made a h...

Instagram

Created With By ThemeXpose & Blogger Templates