Pages

  • HOME
  • ABOUT

WORLD OF NADA



Japan has been on the top of my travel destinations bucket list. I don't know why, but everything about Japan is very appealing to me. I've been very excited every time I see any posts about it. I even put Tokyo nightlife as my desktop wallpaper. To finally be able to go here, it's like a dream come true.

My family actually planned to go in August last year, but due to me and my brother's activity, we decided to go this year. In October 2016, we went to a travel fair at the nearest mall and we were so lucky to get cheap tickets from ANA. It was a great deal getting a multiple city ticket, coming to Tokyo and going back from Osaka. I was very excited to become my own family travel organiser: making itineraries, booking accommodations, etc.

So, in the mid of January 2017, we made our flight to Tokyo. My heart beat so fast since I entered the plane. When the stewardess greet us, I already felt like in Japan. Reviewing a bit about the airline, it is above my expectation. ANA Economy seats are very spacious, I could move my legs freely. The food is great, too. Overall, I was very satisfied with the service and had a really pleasant flight.

At around 7 am on Thursday morning, we landed in Haneda airport. I really needed to go to the toilet and I got to experience the popular Japanese toilets which have many buttons on the seats. After passing the immigration and taking our luggages, we went outside. We still couldn't go anywhere because we had to take our Universal Studios tickets at an travel agency office which open at 8.30 am. While waiting and killing the time, we prepared ourselves wearing winter outfit. I came to the Tourist Information Center to grab maps and ask everything I needed. I also bought Shinkansen tickets to Kyoto there. Then me and my brother bought Suica card from the machine. We were figuring out by ourselves how to buy it and turns out it is very easy! No need to worry about.

After the office opened and we took the tickets, we directly went to the city by train. We followed the route as directed by a staff from the Tourist Information Center while keep checking the map. As we were approaching the city center, the train was getting more crowded since it was early morning and people were going to work. Nearly all of the passengers were wearing black. Since we were also wearing black, we felt like we successfully blend with the locals, haha.

We got off at Shinjuku-sanchome station. Many people said Japanese people are very friendly and helpful. We found out that is true. While were looking at wall map to find nearest exit to our accommodation, a young lady approached us and asked to help. This is the third helping experience we got from a local. Before this, when we had to change train line, we stopped and were looking around to find direction. Looking us confused, a woman asked if she could help. After getting directions from her, we said thank you and were going to leave, but she still wanted to help because she saw us bringing luggages and she only knew the way if we pass the stairs. She was trying to find us an elevator. We said no problem and she made sure we were really okay.

We made our way to the accommodation. I actually booked an apartment through airbnb in Hanzomon area. However, 5 days prior to our departure, the host cancelled my booking due to a problem on the listing! I was panicked. I quickly searched for another apartment and luckily found a decent one in Shinjuku-sanchome area. We all were very satisfied with it. You can see how the apartment looks like and read my review here:
https://www.airbnb.com/rooms/13855453

After putting our luggages, we were ready to start our adventure! First stop is Asakusa where we could visit Kaminarimon Gate, Nakamise Shopping Street, and Sensoji Temple. Before we explored the area, since we were starving, we ate first at Onigiri Asakusa Yadoroku which is located further behind the temple. It is quite popular when I browsed for places to eat, but I think the taste is not that special. It was okay and the rice was soft, though. We didn't eat much because earlier we saw many tempting food back on Nakamise.

Grab a drink from the vending machine
Onigiri Asakusa Yadoroku

Asakusa has that old-town vibe. Wish I could explore more.

Kaminarimon Gate

Nakamise Shopping Street


We were walking around Nakamise and very tempted by the food sold. They all looked so good and attracted us to buy them. Due to our stomach capacity, we only tried these.

Red Bean Taiyaki

Mixed (Green Tea and Original Soft Ice Cream) and Sweet Potato from Funawa Patisserie Marche,
just look at the long queue

From Asakusa, we moved to Ueno. Our main purpose here is to buy Hard Rock T-shirts at the station. I actually didn't know where else to visit here so we just walked around. But sometimes randomness gives you unexpected things. We passed some interesting places. We came into a toy store, bookstore, and even checked out a game arcade.


Loving Ueno Station's vibe


I passed a street which turned out to be Ameyoko Shopping Street. This is on my list but I didn't realize it was here. I saw mostly food sold here, especially seafood.

Ichigo!! (=strawberry)

Our last stop is Akihabara, the centre of electronic shops. What I was looking forward is to see colourful buildings with big Japanese letters. I personally think this kind of view really gives that Tokyo city vibe. Besides, Japanese cartoony songs played from the stores makes it more lively.



Found a decent ramen and soba restaurant for dinner


Our first day in Japan went well. Since we still have many more days to go and we didn't have enough sleep the night before on the plane, we decided to go back to the apartment and rest. Because the next day, we're going to Tokyo Disneysea!
Share
Tweet
Pin
Share
9 comments

Setelah seminggu berada di Manado, akhirnya gue udah harus kembali pulang. Karena cuma punya sisa waktu setengah hari, gue pikir gue nggak akan kemana-mana dan jalan-jalan santai aja. Eh, ternyata justru di hari terakhir ini gue berpetualang ke tempat-tempat menarik.

Pagi-pagi dimulai ke Pasar Tomohon karena para frater mau belanja bahan-bahan makanan untuk dimasak di seminari. Awalnya gue masih merasa kayak di pasar tradisional biasa walau ada beberapa barang yang nggak biasa gue liat untuk dijual kayak ikan cakalang fufu yang memang khas-nya Manado.


Ikan cakalang fufu



Ditelusuri lebih lanjut, ternyata di sini ada Pasar Ekstrim. Gue bener-bener kaget dan nggak nyangka dengan pemandangan yang gue liat di sekeliling gue. Kalo biasanya di bagian daging pasar tradisional jual ayam dan sapi, dan hal ter-nggak biasa yang dijual adalah buntut sapi, di sini makin absurd lagi! Walau udah biasa makan babi, tapi baru kali ini gue liat babi utuh lagi dipotong. Itu belum seberapa, masih ada ular, paniki (kelelawar), dan babi hutan.

Yang paling nggak gue sangka, ternyata di sini juga jual anjing. Waduh, gue kira foto-foto yang beredar tentang pembunuhan anjing itu nggak wajar where actually it's common here. Tadinya gue diajakin buat liat pembunuhannya tapi nggak mau, takut nggak tega. Ternyata, mau nggak mau gue ngelewatin dan ngeliat di depan mata bagaimana anjing-anjing itu dibunuh. Karena darahnya nggak boleh keluar, anjingnya dipukulin dulu terus belom mati bener, udah dibakar pake semprotan api (alatnya kayak shower tapi yang keluar api). Lebih mirisnya lagi, temen-temennya anjing ditempatin di dekat anjing lain dibunuh jadi mereka bisa liat. Mukanya udah melas banget gue nggak tega. Makanya sampe sekarang gue masih belum bisa makan anjing. Walau gue ambil fotonya, tapi nggak gue publish biar nggak menimbulkan kontroversi.

Paniki (kelelawar)



Beralih dari pasar, kita mampir sebentar ke Pusat Kuliner Tomohon untuk beli cemilan. Jam buka resminya mulai dari jam 3 sore dan jalanan ditutup sampai jam 10 malem. Duh, pasti surga banget deh. Untung hari itu pulang. Nggak kebayang gue bisa kalap kalo dateng pas malem.


Untuk benar-benar mengisi perut, kita makan Tinutuan di Rumah Makan Tante Rose. Akhirnya gue benar-benar merasakan bubur Manado dan ini enak banget!

Selesai makan, kita mampir ke Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen yang lagi direnovasi dan kita menyempatkan doa di gua Maria-nya.

Destinasi terakhir kita yaitu Bukit Doa Tomohon yang ternyata cukup terkenal. Nggak cuma umat Katolik yang datang ke sini tapi banyak juga pengunjung dari umat beragama lain karena tempatnya emang bagus buat foto-foto. Berasa kayak lagi di mana gitu karena letaknya di perbukitan.
Kapel Bunda Maria

Amphiteather

Menelusuri area Bukit Doa ini, gue benar-benar terkesima dengan tempatnya. Keren banget! Kapelnya, patung-patungnya, jalan Salibnya. Gue bersyukur banget bisa ke sini, apalagi jadi destinasi terakhir sebelum pulang jadi punya penutup yang berkesan.

Gua Maria



Akhirnya, gue sudah benar-benar harus pulang. Sekali lagi, gue bersyukur banget bisa ikut Indonesian Youth Day ini ketemu teman-teman baru, menjelajah daerah di negara sendiri, liat kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia, mengunjungi tempat-tempat baru, dan mendapatkan pengalaman luar biasa yang belum tentu terulang.

Terima kasih teman-teman kontingen KAJ, para romo, frater, dan semuanya atas pengalaman kebersamaannya dan bikin perjalanan kali ini berkesan.
Bandara Sam Ratulangi Manado

See you on next trip!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hari ini sebagian teman-teman kontingen udah harus pulang ke Jakarta, tapi beruntungnya gue dapet giliran pulang hari besoknya jadi bisa jalan-jalan dulu. Rombongan yang masih stay bisa jalan-jalan sendiri atau kembali tinggal bersama keluarga live-in. Cerita sedikit, tadinya gue mau jebe kontingen Bandung buat barengan extendnya, namun akhirnya gue nemu teman-teman dari KAJ yang sejalan juga jadi berakhir memilih sama mereka biar gampang koordinasinya.

Teman-teman extend gue terdiri dari Jovita, Victor, dan Adrian. Saking banyaknya kontingen Jakarta, gue baru kenal mereka ya pas di Manado ini. Pas banget di penginapan terakhir gue dan Jovita sekamar jadi bisa ngobrol-ngobrol dulu.

Pagi itu, gue bener-bener zombie mode-on secara cuma tidur sekitar 3 jam seusai penutupan IYD. Tapi gue dan yang lain udah harus bergegas pergi dan memulai hari. Beruntung banget Victor temenan sama frater di Skolastikat MSC yang emang tinggal ngesot dari Seminari Pineleng, jadi kita bisa menginap di sana.

Setelah menaruh barang, kita langsung berangkat menuju Bunaken. Ada angkot nganggur di depan, langsung kita tanya dan sekalian nawar untuk charter. Dan untungnya supirnya baik banget.
Hits banget angkotnya

Setelah sampai di checkpoint, kita siap menyeberang pulau. Sepanjang perjalanan keliling pulau, kita dipandu sama saudara temannya Jovita (biar bisa sekalian nego harga juga, hehe). Gue menikmati pemandangan sekaligus ngantuk berkat angin selama di kapal.





Sekitar setengah jam kemudian, sampailah kita di Bunaken! Karena kita mau snorkeling, kita langsung ganti baju renang dan kaki katak yang disewain. Wah, jadi nggak sabar gue.


Sumpah, ini sebenernya kegiatan yang bukan gue banget, tapi mumpung udah di sini ya dicoba deh. Mana gue udah nggak bisa berenang, jadi rada-rada gimana gitu. Pertama-tama, kita latihan pernafasan dengan alat snorkel nya. Awalnya gue masih kagok dan rada panik. Setelah mencoba untuk tenang, akhirnya mulai bisa dan terbiasa. Terus mulai deh muter-muter kesana kemari liat pemandangan bawah laut. Eh, tiba-tiba gue ketagihan. Sampai akhirnya mencoba bertahan di dalem laut buat foto-foto. Bener-bener ini pengalaman baru yang menyenangkan buat gue. Plus, makin seneng tiba-tiba gue bisa ngapung di air lagi, haha.




Setelah main-main di air, kita pindah ke Pulau Siladen. Di sini kita super ngaso duduk-duduk, jalan-jalan di sekitar. Tiap napak, telapak kaki rasanya kayak kebakar saking panasnya matahari.





Suka banget warna airnya!

Pas jalan-jalan, ternyata ada penginapan bagus di sini. Nggak disangka, banyak turis asingnya lagi berjemur. Semacem nemu pulau tersembunyi yang suka didatengin artis gitu lah. Ternyata di negara sendiri juga nggak kalah bagus.


Seusai menjadi anak pantai, kita kembali menuju ke kota dan dibawa ke Monumen Yesus Memberkati. Walau 3 hari sebelumnya gue udah ke sini pas kesasar, kali ini bisa liat dari angle yang bagus yaitu dari kawasan perumahan Citraland. Lumayan ada beberapa orang yang foto-foto juga, tapi nggak rame banget. Kebetulan lagi ada yang jualan es krim, pas banget butuh yang seger. Gue sangat menikmati suasana sore itu, serasa kembali ke masa kecil sore-sore jalan di komplek rumah.


Kita kembali ke seminari. Lumayan, berhubung belom makan kita disediain suguhan sore sama para frater. Saking lapernya, gue nggak sungkan buat makan. Dan akhirnya bisa mandi! Gila, seharian lepek banget ke sana ke mari belom mandi, cuma bilas doang abis main air tadi.


Malamnya, kita diajak makan keluar. Seneng banget bisa sambil menikmati suasana malam kota Manado. Kita makan di Kelapa 17, salah satu tempat makan di Ruko Mega Mas. Ini pertama kalinya gue mencoba ragey, sate babi yang panjangnya setengah meter! Tolong ini enak banget rasanya gurih-gurih gitu, dimakan sama kangkung dan dabu-dabu jadi makin mantep! Mumpung di sini juga, gue pesen Babi Tore, babi yang digoreng crispy. Ini juga mantep banget nggak kuat. So far, ini jenis masakan babi yang paling gue suka.



Kita dibawa ke jembatan Soekarno yang jadi icon baru kota Manado. Sukaaa banget sama lampunya yang warna-warni, serasa lagi di mana gitu. Pemandangan yang bagus menutup malam terakhir gue di Manado.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About

About
Big chunks of travel stories and sprinkles of everything else.

Destinations

  • Andorra
  • Asia
  • Bali
  • Bandung
  • Czech Republic
  • Europe
  • France
  • Germany
  • Hong Kong
  • Indonesia
  • Italy
  • Macau
  • Malaysia
  • Manado
  • Netherlands
  • North Korea
  • Portugal
  • Singapore
  • South Korea
  • Spain
  • Switzerland
  • United Kingdom
  • Yogyakarta

Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  December (1)
      • 2019: The 'See You's and 'Hello's
  • ►  2017 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  March (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (140)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (12)
    • ►  September (10)
    • ►  August (5)
    • ►  July (13)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (81)
Powered by Blogger.

Top Reads

  • 2017 Year-End Note: A Story of Gratitude and Other Life Lessons
    These past two years have been the greatest years I've ever had. I had been wanting to write this last year, but I just got the chan...
  • Japan Winter Trip, Day 1 (Jan 19, 2017) - Tokyo
    Japan has been on the top of my travel destinations bucket list. I don't know why, but everything about Japan is very appealing to...
  • Japan Winter Trip, Day 8 (Jan 26, 2017) - Universal Studios, Osaka
    So here comes the very last day of the whole trip. I felt a bit sad but more excited because we were going to Universal Studios Osaka! My...
  • Japan Winter Trip, Day 2 (Jan 20, 2017) - Tokyo Disney Sea
    Going to Disney amusement park is the day I've been waiting the most. I've experienced Hong Kong Disneyland twice and wonder how ...
  • Japan Winter Trip, Day 5 (Jan 23, 2017) - Tokyo Disneyland
    Last day in Tokyo, I spent it at the known as happiest place on earth, Disneyland. Based on my experience going to Disney Sea, I made a h...

Instagram

Created With By ThemeXpose & Blogger Templates