Pages

  • HOME
  • ABOUT

WORLD OF NADA


Nggak terasa, perasaan baru aja nyampe di Tarabitan, tiba-tiba udah harus meninggalkan tempat ini. Pagi-pagi dimulai dengan menikmati Pantai Patuku. Secara bergiliran kita naik motor pergi dan pulang dari pantai. Anginnya super kenceng pas naik motor, sampai nggak bisa melek.

Santai banget rasanya begitu sampai di pantai. Secara ini hari Senin, hari di mana orang-orang masuk kerja dan seharusnya gue lagi magang, ini malah leyeh-leyeh. Kapan lagi ngerasain kayak gini.



Let's take a wefie!



Saat jam makan siang, kita menuju ke rumah om Albert. Setelah cuci kaki dan bersih-bersih, kita membantu para ibu-ibu menyiapkan makanan buat malam nanti. Jadi, malam itu akan diadakan Malam Bakudapa di mana peserta IYD dan warga paroki Kokoleh akan berkumpul. Masing-masing stasi menyediakan makanan tertentu dan stasi Tarabitan diminta menyediakan Lalampa, semacam lemper yang diisi ikan cakalang.



Habis itu, saatnya makan siang. Sama om Albert, kita udah disiapin babi, cumi, dan pastinya ikan. Aduuh, udah nggak perlu nunggu-nunggu lagi, langsung tancap! Rasa babinya sebenernya enak banget, tapi ya itu babi di sini banyak lemaknya.


Setelah kenyang, berhubung nanti malam masih butuh energi untuk acara malam keakraban di Paroki Kokoleh, saatnya istirahat dan siap-siap. Sekitar pukul 6 sore, kita semua udah berkumpul di depan gereja untuk berangkat bersama. Sebelum berangkat, kita berfoto bersama keluarga masing-masing. Haduh, campur aduk rasanya karena malam ini udah nggak tinggal sama mereka lagi.
Bersama Bu Agustin, Pake Recky, dan Iven

Setelah menempuh perjalanan kira-kira 1 jam, sampailah kita di Paroki Kokoleh. Sesampainya di sana, ternyata sudah ada beberapa yang datang dan doa rosario sudah dimulai. Rombongan yang lain datang menyusul dan mulai memenuhi daerah sekitar gua Maria.


Setelah selesai doa rosario dan sebelum memulai acara, kita menyantap makanan yang disiapkan dari stasi-stasi. Karena penasaran dan tadi pas bikin belum sempet nyoba, gue ngambil Lalampa-nya dulu. Rasanya hampir sama kayak lemper, tapi karena isinya ikan cakalang jadi bikin beda. Enak dan masih hangat pula.


Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya dimulai. Diawali dengan beberapa sambutan lalu dilanjutkan berbagai hiburan. Gue sangat menikmati acara malam ini karena bisa ngeliat kebudayaan lokal dan keakraban begitu terasa, walau secara keselurahan agak kurang teratur waktunya dan tidak dibatasi. Walau diselenggarakannya di dalam gereja, tapi penonton bahkan pengisi acara dari umat agama lain juga turut berpartisipasi. Penampilan yang paling gue suka Tari Maengket. Sebagai penari, gue salut dan terinspirasi banget sama penarinya yang bisa dibilang sudah hampir lansia tapi bisa menarikan gerakan yang nggak sederhana dan teratur.

Persembahan dari kontingen Jakarta yang melibatkan semua peserta



Tari Maengket


Poco-poco ala Sulawesi





Semakin malam, walau ngantuk dan lelah, kita tetap lanjut seru-seruan joget bareng sama OMK setempat sampai akhirnya pembagian tempat tinggal. Untuk semalam ini saja kita pindah ke rumah baru. Kali ini kita tinggalnya nggak sendiri tapi bersama peserta lainnya.
Malam itu sudah hampir pukul 11 dan gue dan 2 orang teman yang tinggal bareng baru tiba di rumah tante Nes, host yang baru. Nggak enak banget sejujurnya baru nyampe tengah malam, baru kenalan, langsung numpang tidur. Tapi tante Nes-nya baik banget. Sebenarnya, di gereja masih lanjut lagi acara kembang api. Untungnya, berhubung rumah ini lumayan jauh dari gereja dan gue beserta teman-teman satu rumah kompak udah nggak kuat lagi, kita memutuskan untuk tidur aja.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Biar nggak bablas tidurnya, gue pasang alarm jam 8 karena mau ibadat 9. Tapi jam 7 pagi si ibu udah ngetok pintu dan emang gue udah rada kebangun sendiri juga, ya udah deh mau nggak mau bangun. Sama si ibu gue diminta sarapan dulu. Di ruang belakang, gue udah disiapin pisang goreng sama kopi. Di sana ada bu Agustin, bu Nori, dan si nenek yang semalem belum sempat kenalan. Mengobrol-ngobrolah kita dan di sini gue menemukan fakta-fakta tak terduga tentang keluarga ini.

Awalnya, gue ditanya umur sama bu Nori, gue jawab 22. Dia bilang, "Berarti seumuran ya sama Recki." Muka gue kalem, tapi dalam hati 'Hah, apa?!' Tunggu, nggak salah nih. Terus gue kepo sama umurnya bu Agustin, ternyata dia lebih tua 2 tahun dari pak Recki. Gue makin bingung. Iven, anak mereka, udah umur 3 tahun pula. Gue tanya aja semuanya sekalian. Bu Nori, ibunya pak Recki, berumur 48 tahun. Dan, si nenek ternyata ibunya bu Nori yang bernama nenek Lerci, berumur 73 tahun. Okeh, jadi gue tinggal di rumah keluarga yang terdiri dari 4 generasi, di mana kepala keluarganya seumuran gue, hyakk.

Sarapan hari itu: pisang goreng dan kopi

Setelah sarapan dan ngobrol-ngobrol, gue mandi dan kita menuju ke gereja untuk ibadat. Ibadat dipimpin Frater Agung. Di akhir ibadat, para peserta live-in dibagikan goodie bag oleh Om Frans yang berisi kaos, alat tulis, buku-buku doa dan panduan acara.

Bersama warga stasi Tarabitan Paroki Kokoleh

Bersama Pras, Nella, Om Frans, Mas Tete, dan Fr. Agung
Baru aja makan, udah makan lagi. Di rumah udah disediain nasi dan ikan sebagai lauk wajib plus dabu-dabu yang endeus. Anggap saja asupan energi lah karena abis ini kita akan ke laut rame-rame, yeay!



Kita berkumpul di rumah Mak Ros, orang tuanya Pras. Dari situ kita jalan ke bawah menuju pangkalan perahu. Gue jalan sambil gandengan sama Mita, anaknya Mak Ros. Dari awal dateng, anaknya emang udah keliatan ramah banget dan selalu senyum. Sepanjang perjalanan kita ngobrol-ngobrol deh.

Petualangan laut pun dimulai! Sejujurnya, gue bukan tipe anak alam. Tapi gue terbuka untuk nyoba hal baru dan hari itu gue mendapatkan pengalaman yang berbeda. Pemandangan adem dan seger banget liat hijaunya pohon dan birunya langit dan laut. Begitu naik perahu ke tengah, angin semriwing, beuh.. Bebas tanpa beban banget rasanya. Seru banget bisa liat dan megang berbagai hewan laut. Biar foto-foto ini yang bercerita sendiri ya.





Ular laut

Bulu babi





Sok-sok an dapet ikan banyak, padahal bukan gue juga yang mancing. Btw, ini berat banget.
Salah satu tujuan utama kita ke laut adalah emang mau makan ikan colo-colo. Colo-colo ini maksudnya dicelup. Kita akan mancing ikan yang langsung dimasak dan dimakan di sana. Bayangan gue tadinya bakal makan di pinggir pantai gitu lah ya. Nggak taunya kita bener-bener makan di tengah laut!

Kita cari tempat yang nggak berair biar bisa ditaruh gonofu (kelapa kering) yang berfungsi sebagai arang buat bakar ikannya. Kesibukan pun dimulai. Pak Recki, bapak gue, dengan gesitnya motong gonofu jadi potongan yang lebih kecil. Cewek-cewek sibuk men-colo-colo ikannya. Ya, bumbu ikan ini air laut nya sendiri.

Gonofu



Bocah-bocah pada main

Colo-colo




Di tengah bakar ikan, lama-lama air semakin naik. Kerempongan terjadi dan kita sibuk cari alas biar ikan-ikannya nggak kerendem, sampai akhirnya kita harus pindah ke perahu.

Nggak pernah kebayang makan literally di tengah laut gini. Ikannya freshly caught and cooked, ditambah dabu-dabu yang dibawa dari rumah, ditemani angin sepoi-sepoi. Sedep, mantep, luar biasa lah pokoknya!

Cuaca mulai agak mendung dan kita memutuskan untuk balik. Sesampainya di pangkalan perahu, kita lanjut bakar ikan, tapi dabu-dabunya hanyut di laut karena plastiknya robek, ya sudahlah.

Setelah berpetualang di laut, berhubung udah sore, kita istirahat sejenak dan langsung mandi. Kita santai sore sambil ngeliatin para ibu latian persiapan penampilan buat malam keakraban besoknya. Mereka akan menampilkan tarian Ampat Wayer.
Lucu banget pemandangan sore itu. Ibu yang pake kaos putih di depan (lupa namanya siapa) heboh banget mimpin teman-temannya. Gue serasa liat diri sendiri kalo udah rempong dengan urusan pertarian, haha.

Pak Recki jadi petugas sound system

Sama Mita, anaknya Mak Ros
Malam harinya, kami berkumpul di rumah Om Albert untuk doa rosario dan ramah tamah. Sesuai kesepakatan, kali ini peserta live-in yang bertugas dan gue terpilih untuk memimpin doa rosario. Abis itu kita ngobrol-ngobrol santai sambil makan biapong (semacam bakpau) yang ada pilihan isi kelapa dan kacang dan minum teh.



Sama Gina, cucunya Om Frans yang murah senyum dan udah pinter gaya


Karena hari ini malam terakhir tinggal di Tarabitan, setelah dari Om Albert kita main ke rumah-rumah para orang tua live-in. Karena letaknya paling dekat, kita main ke rumah tinggal gue, kediaman pak Recki. Gue nggak tau mereka masaknya kapan, tiba-tiba kita disuguhi nasi ikan dabu-dabu. Padahal kita semua udah agak kenyang, tapi karena nggak enak, ya dimakan aja.

Dari situ kita menuju ke rumah bu Rafael, orang tuanya Nella. Mending di sini cuma disediain kembang roda. Lalu akhirnya kita ke rumah terakhir, rumah Om Frans, orang tuanya Mas Tete. Tak disangka, kita disuguhin makanan lagi, makanan berat pula! Walaupun kekenyangan, tapi gue masih bisa menikmati makanan yang disebut Nasi Bungkus itu. Nasi Bungkus di sini bentuknya dipadetin dan dibungkus daun jadi kayak lemper gitu. Untuk lauk, disediain ikan, bunga pepaya, dan pastinya sambal. Bunga pepaya nya seger banget.

Kita menghabiskan waktu paling lama di sini. Berhubung malam terakhir, kita memaksimalkan waktu yang ada untuk sharing. Pak Frans cerita tentang keluarganya, dilanjutkan kesan pesan kita selama di sini. Sempat ada suasana haru, gue pun sampe nangis karena dalam waktu yang singkat udah kerasa banget kebersamaan, keakraban, dan kekeluargaannya. Dari sharing kita jadi lebih menyadari banyak hal dan kebahagiaan bisa diperoleh dari hal-hal sederhana.
Peseta live-in Tarabitan di kediaman Om Frans
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About

About
Big chunks of travel stories and sprinkles of everything else.

Destinations

  • Andorra
  • Asia
  • Bali
  • Bandung
  • Czech Republic
  • Europe
  • France
  • Germany
  • Hong Kong
  • Indonesia
  • Italy
  • Macau
  • Malaysia
  • Manado
  • Netherlands
  • North Korea
  • Portugal
  • Singapore
  • South Korea
  • Spain
  • Switzerland
  • United Kingdom
  • Yogyakarta

Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  December (1)
      • 2019: The 'See You's and 'Hello's
  • ►  2017 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  March (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (140)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (12)
    • ►  September (10)
    • ►  August (5)
    • ►  July (13)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (5)
    • ►  February (81)
Powered by Blogger.

Top Reads

  • 2017 Year-End Note: A Story of Gratitude and Other Life Lessons
    These past two years have been the greatest years I've ever had. I had been wanting to write this last year, but I just got the chan...
  • Japan Winter Trip, Day 1 (Jan 19, 2017) - Tokyo
    Japan has been on the top of my travel destinations bucket list. I don't know why, but everything about Japan is very appealing to...
  • Japan Winter Trip, Day 8 (Jan 26, 2017) - Universal Studios, Osaka
    So here comes the very last day of the whole trip. I felt a bit sad but more excited because we were going to Universal Studios Osaka! My...
  • Japan Winter Trip, Day 2 (Jan 20, 2017) - Tokyo Disney Sea
    Going to Disney amusement park is the day I've been waiting the most. I've experienced Hong Kong Disneyland twice and wonder how ...
  • Japan Winter Trip, Day 5 (Jan 23, 2017) - Tokyo Disneyland
    Last day in Tokyo, I spent it at the known as happiest place on earth, Disneyland. Based on my experience going to Disney Sea, I made a h...

Instagram

Created With By ThemeXpose & Blogger Templates